Header Ads

Sejarah Sambal Cibiuk

Selamat pagi, Kawan Blogger! Bagi yang berpuasa, semoga tetap kuat sampai magrib nanti. Bagi yang enggak, yaaa ... selamat menikmati hari Senin. Mumpung lagi semangat ngeblog nih, saya mau lanjutin cerita-cerita tentang Swiss van Java alias Garut dalam rangka papajar sebelum puasa. Ngelanjutin cerita yang ini nih :D

Kawan Blogger, pernah makan sambal Cibiuk? Atau pernah dengar? Atau enggak pernah? Ya, gak masalah sih, saya cuma nanya aja :mrgreen: Bagi yang udah pernah makan, pasti tahu donk dari mana asalnya sambal Cibiuk. Di setiap restoran sambal Cibiuk yang tersebar di mana-mana, biasanya suka tertulis dengan jelas "Sambal Cibiuk Khas Garut". Nah, kemarin tuh ya, saya lanjutin jalan-jalannya langsung ke Cibiuk, buat menginvestigasi sejarah asal-usul sambal Cibiuk itu (#tsaaa).

Bagi yang pernah makan sambal Cibiuk, pasti tahu donk gimana maknyusnya sambal Cibiuk. Sambal Cibiuk diyakini banyak orang punya rasa yang berbeda, meski bahan atau tampilannya kurang lebih sama dengan sambal-sambal lainnya. Ciri khas sambal Cibiuk ini adalah cabai rawitnya yang dibiarkan kasar saat diulek. Jenis-jenis sambal Cibiuk--kata masyarakat setempat--itu di antaranya sambal tarasi, sambal hejo, dan sambal kacang. Meski hanya berbahan cabai rawit, garam, dan terasi, sambal Cibiuk baik yang level biasa hingga level superpedas dipercaya gak bakal bikin perut panas dan mulas. Gak tahu juga, sih, kalau cabai rawitnya lima kilo :mrgreen:

Pendapat itu juga cukup menyugesti saya kalau memang sambal Cibiuk itu bukan sekadar sambal biasa. Saya yang gak suka terasi pun bisa gak berhenti-berhenti makan sambal Cibiuk. Ya, emang gak jauh beda sama maruk, sih :mrgreen: Sugesti lainnya, yaitu katanya meski bahannya sama kayak sambal biasa, tapi kalo sambal itu dibuatnya di luar Cibiuk, sensasinya bakal lenyap dan gak sebanding di Cibiuk langsung. Bahkan, salah seorang nenek yang saya tanyain tentang "rahasia" di balik kemaknyusan sambal Cibiuk bilang, kalau orangtua terdahulu itu punya jampe-jampe (mantra) khusus saat bikin sambal Cibiuk. Hmmm ...

Meski dengan menu super seadanya: nasi liwet yang dimasak di kastrol, sangrai teri, goreng tempe, kerupuk, dan sambal cibiuk, tapi dijamin susah berhenti makan sebelum si sambal ludes :D
Syekh Ja'far Shidik, Penyebar Islam di Tanah Garut

Ternyata sambal Cibiuk yang udah jadi trade mark di berbagai kota besar ini ternyata punya sejarah yang sangat erat kaitannya dengan Islam. Syekh Ja'far Shidik adalah salah seorang wali yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Garut, selain Syekh Embah Dalem Arif Muhammad. Saya gak tahu persis kapan Syekh yang dikenal Embah Wali ini mulai menyebarkan Islam di sana. Namun, salah satu peninggalan beliau berupa masjid hingga kini masih utuh. Masjid tersebut--kata penjaganya--berusia lebih dari 450 tahun. Masjid tersebut cukup unik, karena tidak menggunakan paku di setiap tiang penyangganya dan berlantaikan palupuh (papan bambu).

Embah Wali sangat gencar mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Beliau juga menekankan pentingnya berwirausaha. Masyarakat dianjurkan untuk menggali potensi yang dimilikinya demi perbaikan ekonomi mereka, salah satunya dengan memanfaatkan keahlian membuat makanan. Makanan yang dimaksud adalah sambal yang kini dikenal dengan "sambal Cibiuk". Tradisi nyambal tersebut dikembangkan putrinya, Nyimas Ayu Fatimah. Selepas itu, sambal Cibiuk terus dilestarikan oleh keturunan-keturunan Embah Wali lainnya hingga jadi warisan bagi para anak-cucunya.

Makam Embah Wali terletak di kaki Gunung Haruman, Desa Cipareuan, sekitar satu jam dari kota Garut. Namun, bisa juga ditempuh melalui Pasar Limbangan kalau dari arah Tasikmalaya. Karena letaknya itu, Embah Wali juga dikenal sebagai Sunan Haruman. Sepanjang jalan menuju makam Embah Wali, banyak warung kecil hingga restoran yang menyediakan menu utama sambal Cibiuk. Untunglah, saya punya saudara yang kebetulan jadi juru kunci kompleks pemakaman Embah Wali itu. Alhasil, setiap kesana pasti disediakan sepaket hidangan khas Cibiuk secara cuma-cuma, yaitu nasi liwet, ikan asin, tempe, sayuran, dan menu wajib: sambal Cibiuk!

Makam Embah Wali ini dikelola Pemda setempat jadi salah satu objek wisata ziarah.
Masjid Embah Wali, peninggalan Syekh Ja'far Shidik ini pernah diajukan jadi cagar budaya namun ditolak karena telah mengalami renovasi berkali-kali hingga kehilangan bentuk aslinya.
Kompleks pemakaman Syekh Ja'far Shidik. Tampak para peziarah sedang khusyuk berdoa. Pada malam tertentu, biasanya banyak peziarah datang, bahkan menginap di depan makam.
Salah satu toilet umum di lokasi peziarahan. Yakin ... toilet umum dengan tulisan kayak gini cuma ada di Jawa Barat, hehehe :mrgreen:
Asal Usul Nama Prabumulih

Meski saya beberapa kali datang ke Cibiuk, namun di silaturahim yang kemarin, saya baru tahu satu sejarah unik. Kawan blogger mungkin tahu Prabumulih, salah satu kota di Sumatra Selatan yang terkenal sama nanasnya (kayak Subang). Nah, ternyata itu masih ada hubungannya sama Cibiuk. Jadi ya, di sekitar kompleks pemakaman Embah Wali ini ada empat makam utama, yaitu makam Embah Wali itu sendiri, lalu ada makam kerabat-kerabatnya, yaitu Nyimas Ayu Fatimah (putri Embah Wali), Embah Muhammad Asyim, dan Embah Eyang Abdul Jabar. Keempat kompleks makam utama itu pun dikelilingi makam kecil lainnya.

Nah, satu wali yang saya sebut barusan, yaitu Embah Eyang Abdul Jabar dikenal juga sebagai Embah Lembang. Setelah saya tanya, julukan itu diberikan kepada beliau karena beliau pernah menyebarkan agama Islam di salah satu daerah di Palembang. Ketika sang wali pulang ke daerah asalnya, Cibiuk, masyarakat setempat yang ditinggalnya menyebut bahwa sang prabu mulih atau sang prabu sudah pulang. Konon, hal tersebut jadi asal muasal penamaan Prabumulih, salah satu daerah yang pernah ditinggali Embah Eyang Abdul Jabar.

Begitulah, cerita di balik si maknyus "Sambal Cibiuk". Ternyata di balik rasa pedasnya yang bikin ketagihan, ada sejarah yang panjang tentang semangat berkembangnya Islam di tanah Pasundan.


Tidak ada komentar