Header Ads

Impulsif ke Pantai Anyer

Pantai Anyer
Sudah lama, sebetulnya, saya ngidam pengen lihat pantai. Lihat pasir putih, debur ombak, dan suasananya yang khas: panas dengan angin sepoi-sepoi. Sebagai orang yang "terlahir" di gunung, tinggal di kota yang dikelilingin gunung, kerja saban hari juga pemandangannya ya cuma gunung, di situ kadang saya merasa sedih. Susah sekali kalau lagi pengen lihat pantai. Terakhir kali ke pantai, dua tahun lalu, di Bengkulu.

Padahal kan gak perlu jauh-jauh ke Bengkulu buat liat pantai. Di Jawa, atau bahkan Jawa Barat, sangat banyak pantai yang bahkan sampai sekarang pun belum semuanya pernah dikunjungi. Nasib memang, setiap hari cuma keliling-keliling Bandung yang gak berpantai. Kalau pun mau, ya cuma liat cileuncang alias genangan air habis hujan. Gak beda-beda amat sebetulnya sama sensasi pantai, cuma gak ada pasir putih aja.

Sampai akhirnya, bermula Kamis lalu, saat mengunjungi resepsi pernikahan teman di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Setelah datang ke resepsi teman tersebut dan menyadari bahwa semakin langka "anak" seumuran yang masih single, hasrat pengen jalan-jalan pun makin besar. Refreshing. Kebetulan pula, pulang dari acara resepsi, punya niat main ke tempat teman di Serang, Banten. Sekaligus nengok papanya yang lagi sakit.

Sesuai rencana, Kamis sore saya sudah sampai di Serang, ibu kota provinsi Banten. Dari Jakarta, saya naik bis Primajasa jurusan Jakarta-Serang dengan ongkos Rp28.000,-. Perjalanan cukup lama, sekitar 3 jam dan yang paling lama justru saat bis masih "keliling" dalam kota Jakarta. Setelah keluar tol Kebun Jeruk dan masuk tol Merak, perjalanan sangat lancar. Sampai di Serang, saya langsung istirahat di tempat teman. Serang adalah kota kedua di provinsi Banten yang pernah saya kunjungi setelah Tangerang Selatan (selain Merak yang dikunjungi cuma buat nyebrang pulau pakai feri).

Sebagai ibu kota provinsi, sebetulnya kota Serang terbilang cukup "sepi", apalagi sebagai provinsi tetangga ibu kota. Ruas jalan tidak terlalu padat dengan kendaraan, dan sepanjang jalan ada beberapa pusat perbelanjaan, termasuk yang terlihat paling besar adalah Mall of Serang (MOS). Sepintas pertama kali datang, saya berasa datang ke Cirebon. Apalagi pertama kali turun dari bis, ada tukang ojeg yang langsung nyambut dengan bahasa Jawa (yang katanya) logat Banten. Semua orang di pangkalan ngobrol pakai bahasa Jawa. Benar-benar gak berasa kalau provinsi ini pernah jadi bagian dari Jawa Barat.

Malam hari, saya diajak buat wisata kuliner khas kota Serang. Katanya, ada beberapa kuliner khas kota ini, macam sate bandeng, rabeg, dan nasi sumsum. Tapi malam itu, saya hanya makan nasi sumsum dan otak-otak. Sesuai namanya, nasi sumsum terdiri dari nasi dan sumsum daging yang bisa dipilih: sapi, kerbau, atau kambing. Nasinya dibakar dan dibungkus daun kelapa. Sayang gak saya foto, berhubung sebagai traveler yang gak sejati-sejati amat, saya masih suka memperhitungkan kondisi sekitar saat mau ngambil foto. Kesimpulannya: jaim.

Besoknya di hari Jumat, sesuai rencana, saya menjenguk papanya teman di Krakatau Medika Hospital di kota Cilegon. Di sela-sela jengukan, saya sempatkan buat jalan-jalan di kota penghasil baja terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Suasana mirip-mirip Bekasi atau Cikarang, panas menyengat. Shalat Jumat di masjid agung Cilegon dan nonton di mal paling happening di sana, yaitu Ramayana yang terkenal dengan kasih sepanjang masanya (karena selalu diskon setiap hari).

Menara Suar Anyer
Tugu 0 KM Anyer-Panarukan
Hari Sabtu, rencana selanjutnya adalah jalan-jalan ke pantai sesuai ngidam yang saya ceritakan di awal. Tujuannya adalah Pantai Anyer, pantai yang selalu saya ingat namanya sejak SD. Jadi ingat Bu Lia, guru saya pas kelas 4 SD, beliau pernah bertanya tentang pantai apa saja yang ada di Jawa Barat. Dulu, saya jawabnya Pangandaran, Anyer, dan Carita. Padahal dua yang terakhir sekarang masuknya provinsi Banten.

Pantai Anyer ini sebetulnya masuk wilayah Kabupaten Serang, tapi aksesnya lebih mudah ditempuh melalui kota Cilegon. Dari Cilegon, hanya perlu naik angkot berwarna perak (silver) ke Pantai Anyer. FYI, di Cilegon ini mudah mengingat jurusan trayek angkot, karena jurusannya dibedakan dengan warna. Perak ke anyer, merah ke Merak, dan ungu ke PCI. Dengan ongkos 5 rebu perak doang, saya sampai ke titik pertama, yaitu menara suar tempat KM 0-nya Jalan Anyer-Panarukan. Hanya perlu bayar Rp5.000,- untuk bisa naik ke menara setinggi 16 lantai tersebut.

Lepas memandang sekeliling Anyer dari menara suar, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Anyer. Dari menara suar hanya perlu beberapa menit sampai ke Hotel Marbela dengan angkot. Tapi, bukan hotel Marbela yang saya tuju, melainkan gang di sampingnya yang juga jalan menuju pantai. Sekitar jam 3 sore, pantai ramai dengan pengunjung. Di situlah, ngidam saya sedikit terbayar meski masih pengen ketemu pantai-pantai lainnya. Siapa tahu kan ketemu jodoh *oke yang ini curhat kebablasan*


Pulang dari Anyer, saya kembali ke Cilegon dan istirahat sejenak di rumah sakit tempat orangtua teman dirawat. Besoknya perjalananan dilanjutkan kembali ke Bandung, kota yang makin lama makin cantik. Dan, cantiknya semakin melenakan. Ah, semoga bisa selekasnya melepaskan ...

Tidak ada komentar