Header Ads

Backpacking Malaysia: Wisata Sejarah di Kota Tua Melaka (Part 2)

Postingan pertama Backpacking Malaysia cuma habis buat perjalanan Jakarta dan ngemper semalaman di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2. Setelah saya dan Novan dapat bus ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Bandar Tasik Selatan (BTS) untuk kemudian dilanjut ke Melaka, perjalanan ke Malaysia pun dimulai!


Dari KLIA 2, saya dan Novan naik bus Jetbus dan berangkat tepat pukul 04.45. Bus datang tepat waktu dan menjemput kami. Perjalanan KLIA 2 ke BTS cuma sejam doang. Tarifnya RM10. TBS BTS ini terminal yang cukup megah dengan arsitektur modern. Dan, yang paling penting: terminalnya bersih dan gak bau! Sesuai namanya, Terminal Bersepadu Selatan, terminal ini melayani perjalanan bus ke arah selatan Kuala Lumpur, seperti Johor Bahru, Melaka, dan Negeri Sembilan. TBS BTS juga terintegrasi dengan kereta bandara (KLIA Transit), KTM Komuter, dan Light Rail Transit (LRT). Begitu turun dari Jetbus, kami langsung menuju terminal bus antarnegeri.

Di dalam terminal bus antarnegeri, terdapat banyak ticket vending machine dan konter tiket. Kami pilih beli tiket di vending machine aja biar gak antre. Dan, kita pun langsung memilih bus ke Melaka. Ternyata, bus ke Melaka ini banyak dengan berbagai nama. Ada Transnasional, Mayangsari, Jetbus, dan Metrobus. Kami pilih Metrobus yang paling dekat waktu berangkatnya. Tarifnya RM11.

TBS BTS ini terminal bus model bandara. Setelah beli tiket bus sesuai tujuan kita, kita harus check in untuk masuk ruang tunggu dan menunggu sesuai gate yang tertera di boarding pass. Nantinya, bus akan datang ke gate masing-masing. Para penumpang lalu akan naik bus setelah sebelumnya di-scan dulu boarding pass-nya. Begitu juga yang kami lakukan begitu hendak naik bus menuju Melaka.

Suasana dalam TBS BTS. Terminal bus ini mirip bandara. Penumpang dapat memilih berbagai rute dan mengetahui jadwal keberangkatan bus dari papan informasi digital di atas konter-konter yang berjajar.
Menunggu keberangkatan bus sesuai dengan gate yang tertera di tiket.
Ternyata Metrobus berangkat jam 06.00. Artinya kami hanya punya waktu 5 menitan lagi. Padahal, niatnya mau santai-santai di toilet (loh?). Setelah dapat tiketnya, kami langsung bergegas sambil lari-lari ke arah tempat menunggu bus. Karena gak tahan, saya terpaksa mampir ke toilet meski Novan terus ngeburu-buru. Begitu sampai tempat nunggu, semua penumpang sudah naik dan kami adalah penumpang terakhir. Busnya termasuk bus VIP. Seat-nya 2-1. Pokoknya nyaman banget. Berangkatlah Metrobus menuju Melaka, negara bagian (setingkat provinsi di Indonesia) yang berada di barat daya Kuala Lumpur.

Perjalanan dari TBS BTS ke Melaka memakan waktu sekitar 2 jam. Di perjalanan yang cukup panjang ditambah bus yang sangat nyaman, kami memejamkan mata sebentar. Tadinya mau lihat-lihat pemandangan sekitar,tapi berhubung masih gelap, jadi ya terpaksa tidur sebentar. Ya, jam 06.00 di Malaysia masih gelap. Meski berbeda satu jam dengan Jakarta (UTC +7) dan sama dengan WITA, tapi pada hakikatnya Malaysia ini masih satu waktu dengan Jakarta (WIB). Riilnya sih setara dengan Riau. Artinya, jam 6 di Kuala Lumpur sama aja kayak jam 5 di Riau (Riau ya, bukan Jakarta). Jadi, masih sangat subuh. Kalau di Depok sih, jam 6 udah sarapan nasi uduk 😃

Kami pun sampai di Melaka Sentral sekitar jam 08.00. Setiap terminal di sana disebutnya sentral. Lagi-lagi, terminal di Melaka juga tergolong bersih meski berhadapan dengan Pasar Melaka. Begitu turun, kami langsung disapa mentari pagi Melaka. Belum begitu panas sih. Sebelum lanjutkan perjalanan, sejenak kami menepi di beberapa warung yang terlihat baru pada buka. Kami pun memutuskan sarapan dulu. Kata Novan, belum lengkap kalau ke Malaysia belum makan nasi lemak sebagai makanan khas pas sarapan. Kami pun memilih salah satu warung dan ibu-ibu langsung menyapa ramah. Begitu tahu logat kami keindonesia-indonesiaan, si Ibu pun langsung sumringah dan bilang kalau dia juga orang Medan dan telah lama di Malaysia.

Melaka Sentral
Sarapan dulu di Melaka Sentral: nasi lemak dan es Bandung.
Kami pun memilih menu nasi lemak dengan minum es bandung (orang sana bilang ais). Nasi lemak sama aja kayak nasi uduk. Lauknya pasti ikan bilis alias ikan teri, telur mata alias telor mata sapi, dan sambal. Si ibu-ibu sempat kepo-kepo nanya asal kita dan tujuan kita. Sempat cerita juga kisah si Ibu dari awal mula hijrah ke Johor Bahru dan sekarang menetap di Melaka. Semua sarapan kami hanya seharga RM8.5. Nasi lemak hanya seharga RM3 alias Rp9.000-an. Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan. Sesuai tujuan, kami akan keliling kota tua Melaka dan menginap di sekitar sana.

Di Melaka Sentral, kami sempat cari toilet dan jajan dulu. Warung-warung di terminalnya mirip sama di Bandung atau Jakarta, hanya dalam versi yang lebih agak rapi dan bersih. Maka, ekspektasi kami saat ketemu toilet pastilah lebih bersih juga. Tapi, sayangnya, toilet di Melaka Sentral ternyata gak lebih bersih juga dari toilet di Terminal Leuwi Panjang, hehe. Sempat gak bisa pup juga meski sudah ditahan-tahan. Tadinya mau mandi pun batal, jadinya cuma cuci muka. Ditambah, ibu-ibu penjaga toiletnya galak dan cuma mau nerima duit pas, yaitu 2 sen. Untung, saya ngantongin duit koin (shiling).

Di Melaka Sentral juga tersedia bis kota dengan nama Panorama Melaka. Mirip-mirip Damri lah. Kami naik bus Panorama nomor 17 jurusan Melaka-Ujong Pasir. Kami turun di Bangunan Merah dengan tarif RM2. Naik bus di sana cukup sederhana. Naik bus, sebutkan tujuan ke mana, maka si babang sopir pun akan memberi kita tiket dan kita bayar sesuai tujuan. Jadi, gak ada kondeturnya macam Damri atau Transjakarta. Dan, penumpang pun hanya diperbolehkan naik dan turun di halte bus yang telah disediakan. Jangan sembarangan.

Penumpang memasuki Panorama Melaka, Damri-nya Melaka.
Suasana dalam Panorama Melaka dan tiket seharga RM2 menuju kawasan Kota Tua Melaka.
Kami turun di halte Bangunan Merah. Sesuai namanya, halte ini merupakan pusat Kota Tua Melaka. Begitu turun, kita akan melihat beberapa bangunan dengan cat merah menyala. Paling kiri, ada sebuah gereja yang juga merah dan tampak bergaya klasik. Di sampingnya ada beberapa bangunan lain dan petunjuk arah yang jelas. Suasana klasik juga didukung oleh jalan raya yang dibuat dari paving block, bukan aspal. Orang-orang, turis domestik maupun mancanegara, tampak ramai pagi itu. Padahal, Selasa itu bukanlah hari liburan.

Saya dan Novan menepi terlebih dahulu sambil memperhatikan suasana sekitar. Saya sambil berpikir-pikir, harus mulai dari mana untuk menikmati kota tua yang sudah diakui dunia sebagai World Heritage City ini. Kesan pertama sudah menggoda. Gak sabar, mau meniti satu per satu tempat yang ada. Utamanya, harus foto di depan tulisan besar yang menyambut kami dengan ceria: I Love Melaka. Berhubung masih jam 09.00-an, kami belum bisa check in di hostel yang telah dipesan, maka mau tidak mau kami harus bawa-bawa dulu backpack beserta semua isinya buat jalan-jalan.

Kami mulai dari yang paling dekat: Christ Church of Melaka disambung dengan beberapa museum yang berjejer ke arah Selatan. Sebelum terlalu jauh, ada petunjuk ke arah bukit bertuliskan St. Paul Hill dan ST. Paul Church. Tapi, kami lewatkan dulu dan memilih memasuki satu per satu museum yang ada di Melaka. Semua museum rata-rata bertarif RM5 untuk sekali masuk (dewasa). Tapi ada juga beberapa yang gratis. Dan, ada pula yang termahal: museum sastera dan budaya seharga RM20. Wajar saja karena museum itu gabungan dari empat museum lainnya. Kami mulai masuk dari museum Stadthuys, Muzium Seni Bina (museum arsitektur), Muzium UMNO (organisasi politik paling kuat di Malaysia), Muzium Stem, Muzium Dunia Islam, dan beberapa museum yang terlewat.

Muzium Setem alias Museum Perangko

Muzium Dunia Melayu dan Dunia Islam

Salah satu koleksi Muzium Rakyat

Antrean masuk Muzium Sejarah, Etnografi, dan Sastera

Diorama yang menceritakan kemerdekaan Malaysia.
Masuk satu per satu museum ternyata lumayan memakan waktu yang lama. Ditambah, kami sempat ngadem-ngadem dulu mumpung ketemu AC karena cuaca di luar mulai terasa panas dan matahari mulai terik. Perjalanan sempat terhenti di depan sebuah lapangan luas yang disebut Dataran Pahlawan. Lapangan tersebut konon adalah saksi kembalinya delegasi Malaysia yang berhasil mendapatkan kemerdekaan dari Kerajaan Inggris. Dari situ, kami bergeser ke arah Istana Kesultanan Melaka dan berniat melihat-lihat sejarah kesultanan Melaka yang kini tak bersultan lagi. Istana tersebut sekarang menjadi museum dengan menampilkan sejarah Melaka, termasuk hubungannya dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Selepas dari Istana Kesultanan Melaka, kami pun bergegas menuju hostel terlebih dahulu karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Sebelum ke hostel, kami mencari makan siang dan Novan mengajak saya ke Medan Selera, salah satu pasar yang ada di Melaka. Lantai paling bawah dipadati penjual baju dan makanan ringan. Di lantai atas tersedia beberapa warung nasi. Kami pun makan di sana dengan mencari menu yang kira-kira khas dan tidak ada di Indonesia. Kami pun memilih asam pedas, makanan khas Melaka. Sebetulnya mirip-mirip cincang di rumah makan Padang tapi dalam versi yang kurang mecin.

Istana Kesultanan Melaka yang kini menjadi museum.
Salah satu sudut Jonker Walk tempat kami menginap selama di Melaka.
Setelah kenyang makan di Medan Selera, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Jonker Walk, tempat kami menginap. Perjalanan masih istiqomah dengan jalan kaki. Itung-itung membayar semua makanan yang dengan membabi buta masuk ke perut kami sejak semalam 😃 Jonker Walk termasuk salah satu ikon kota Melaka. Jalan yang mirip-mirip Braga, Bandung, dalam versi yang lebih ramai dan tertata ini merupakan kawasan pecinan. Sayang, kami datang pas weekday. Padahal, kalau weekend, katanya ada pasar malam yang khusus diadakan tiap akhir pekan.

Kami mengunjungi hostel yang telah kami pesan. Namanya Bala Guest House. Pemiliknya Uncle Bala, orang India yang sangat ramah. Hostel budget ini adalah langganannya Novan karena dia sudah berkali-kali menginap di sini. Buat backpacker, hostel Uncle Bala ini cukup nyaman. Kami dapat sebuah kamar dengan double bed plus kipas angin. Kebetulan, kami dapat kamar lantai 1, jadinya lebih teduh dan dingin. Tidak seperti lantai atas yang terik kena sinar matahari. Setelah bertransaksi dan mengisi guest book, kami pun akhirnya bisa ketemu kasur. Mandi, shalat, dan ... tidur hingga sore!

Sesuai yang saya bilang dari awal, saya usahakan gak terlalu banyak menghabiskan waktu buat tidur saat traveling. Berasa sayang momen. Apalagi ini mumpung di Malaysia. Makanya, setelah cukup tidur, selepas Ashar, saya dan Novan langsung meluncur lagi buat eksplor Melaka di sore hingga malam hari ini.

Perjalanan menutup hari di Melaka, saya lanjutkan di postingan selanjutnya 😊

Tidak ada komentar