Header Ads

Backpacking Malaysia: Sejenak di Kota Putrajaya (Part 6 - END)

Hari terakhir di Malaysia bukan berarti harus banyak istirahat sebelum pulang. Setelah dari pagi hingga menjelang sore, saya dan Novan menghabiskan waktu buat eksplor Kuala Lumpur, tujuan selanjutnya yang sayang untuk dilewatkan adalah Putrajaya!

Masjid Putra, masjid negara milik Malaysia.
Putrajaya adalah ibu kota eksekutif Malaysia. Sejak 1995, Putrajaya menjadi pusat administrasi Malaysia menggantikan Kuala Lumpur. Kota ini merupakan kota “buatan” yang hasilnya sangat-sangat menakjubkan. Indah dan tertata rapi. Istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan kantor Perdana Menteri Malaysia ada di sini. Letaknya di sebelah selatan Kuala Lumpur dan melewati dulu negara bagian Selangor.

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, dari Kuala Lumpur Sentral, sebetulnya kita bisa saja naik kereta bandara KLIA Transit menuju Putrajaya. Hanya saja, saya dan Novan coba cari cara lain biar lebih greget (baca: ekonomis), yaitu dengan naik dulu Komuter dari KL Sentral ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Bandar Tasik Selatan (BTS). Dari BTS, barulah disambung KLIA Transit menuju Putrajaya. Hanya memakan waktu 30 menit dengan kereta cepat bandara ini, kami pun tiba di Putarajaya Sentral, terminal terintegrasi di Putarajaya.

Sama halnya dengan KL Sentral, di Putrajaya Sentral juga tersedia penyewaan loker. Maka, kami dapat menyimpan dulu barang bawaan kami di loker dan cukup membawa selempang saja buat keliling-keliling. Tujuan utama kami adalah Perdana Putra, istana tempat berkantornya Perdana Menteri Malaysia. Di Putrajaya sentral terdapat bus angkutan kota, semacam Damri, dengan berbagai tujuan. Nama bisnya Putraja Internal Nadi Bus atau cukup ditulis Nadi Putra. Ada pula taksi yang tidak hanya menawarkan jasa angkutan tapi sekaligus paket wisata keliling Putrajaya.

Paket tur Putrajaya yang ditawarkan oleh taksi setempat di Putrajaya Sentral.
Suasana dalam bus Nadi Putra.
Di Putrajaya Sentral terdapat papan informasi yang jelas mengenai nomor bus yang perlu kita naiki sesuai tujuan yang dikehendaki. Kami pun naik Nadi Putra nomor L08 yang akan melalui Taman Perdana Putra. Tarif bus Nadi Putra hanyalah RM0.5 alias Rp1.500 doang. Jauh dekat sama. Penumpang akan langsung membayar begitu naik bis. Caranya, masukkan uang koin atau uang kertas ke dalam kotak uang di depan Pak Sopirnya. Setelah itu, tiket akan keluar dari bawah kotak tersebut. Sangat disarankan kita membayar dengan uang pas karena gak akan ada kembalian sama sekali. Makanya, kalau kita masukkan RM1, uang tersebut bisa untuk dua tiket. Tapi, kalau kita datang dan naik sendiri lalu memasukkan RM1, yasudah relakan saja kembaliannya untuk orang-orang yang membutuhkan 😃

Perjalanan ternyata cukup panjang. Kami disuguhi deretan kompleks perumahan pegawai negara tertata rapi sepanjang jalan dengan jalanan yang sangat lebar. Tidak banyak orang berlalu lalang, tidak banyak keramaian berarti. Paling-paling, kebun dan hutan kota. Bayangkan, ada sebuah kota besar yang sangat sepi tapi dengan rumah-rumah yang berjejer rapi sepanjang jalan besar. Sampai akhirnya, kami sampai di halte Taman Persiaran Perdana Putra yang letaknya di samping Perdana Putra, istana tempat berkantornya Perdana Menteri Malaysia.

Taman tersebut luas dan bersih dengan dihiasi pepohonan dan bunga-bunga. Terdapat beberapa stall yang menjajakan jajanan, seperti char kuey teow, popiah, hotdog, nasi sate, dan beberapa makanan modern lain. Kami menepi sejenak sambil menikmati angin Putrajaya yang semilir. Tidak ada keramaian berarti, hanya ada beberapa orang yang tampak seperti pegawai negeri yang lalu lalang untuk jajan. Saya pilih membeli char keuy teow yang ternyata kembarannya kwetiau. Sama aja. Tapi, soal rasa, harus saya akui belum ada jajanan Malaysia yang bikin kepincut dibanding jajanan Bandung yang serba gurih-gurih nyoy. Intinya, lagi-lagi masalah mecin. Orang Cianjur bilang cawerang.

Taman Persiaran Perdana Putra. Letaknya di samping kantor PM Malaysia. Suasananya sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampilannya seperti PNS.
Popiah, gorengan yang paling berasa gorengan di Malaysia di antara gorengan-gorengan lain.
Char Kuey Teow, blasteran kwetiau sama lumpia basah dalam versi kurang mecin.
Begitu juga dengan popiah yang dibeli Novan. Popiah mirip lumpia dengan isi yang lebih berwarna: ada kacang polong, wortel, jagung, ditambah stik kepiting. Sayang seribu sayang, gak disediakan rawit atau cuma saus *banyak maunya nih konsumen* Jadi dicamil gitu aja. Gak ada sensasi apa-apa selain mengganjal perut lapar, haha.

Dari Taman Persiaran Perdana Putra, spot wajib foto adalah halaman depan istana Perdana Putra. Dari kejauhan mulai terlihat banyak orang termasuk wisatawan, khususnya di depan Masjid Putra, masjid negara yang letaknya berhadapan dengan istana Perdana Putra. Sebetulnya perasaan agak gak enak berhubung melihat langit tampak sedikit gelap. Setelah habis foto-foto di depan istana Perdana Putra, kami langsung menuju Masjid Putra. Sebelum masuk ke dalam masjid, kami sempatkan menikmati danau di sebelah Masjid Putra yang dinamakan Tasik Perdana Putra. Gak usah bosan dengan semua namanya karena serba-Putra 😃  

Begitu foto-foto di depan danau, tiba-tiba turun gerimis dan langit makin mendung. Agak khawatir karena belum sempat keliling pusat kota Putrajaya dengan berbagai jembatannya yang masyhur. Orang-orang yang kelihatannya wisatawan tampak sibuk masuk ke dalam bus. Saya melihat ada rombongan umroh dari Indonesia juga. Saya dan Novan langsung menepi ke dalam Masjid Putra, tapi ternyata hujan semakin menderas. Novan udah agak bete berhubung saya kelamaan foto-foto di danau, hehe.

Masjid Putra, berhadapan dengan kantor Perdana Menteri Malaysia.
Perdana Putra, istana tempat berkantornya Perdana Menteri Malaysia.
Masjid Putra dengan latar belakang langit yang semakin mendung. Perjalanan Putrajaya harus berhenti di sini karena hujan deras dan waktu yang mepet menuju penerbangan pulang 😩
Karena hujan makin deras ditambah jam sudah menunjukkan pukul 18.00, mau tidak mau kami gak bisa santai lebih lama. Penerbangan pulang malam ini jam 20.00. Awalnya sempat bingung karena halte tempat menunggu bis sangat jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Apalagi hujan makin deras. Kami menepi dulu di dalam halaman depan Masjid Putra. Gak ada taksi satu pun yang lewat. Awalnya agak was-was, takutnya terlambat sampai bandara KLIA. Ditambah, selama di Malaysia kami tidak mengaktifkan data internet sama sekali. Gak ada nomor telepon taksi yang bisa dihubungi atau pesan Grab.

Tapi, untunglah, begitu mencoba menyalakan wifi di HP, ternyata tersedia wifi di Masjid Putra. Kami juga baru ingat di Malaysia kan ada Grab. Akhirnya, kami pun memesan Grab Car dengan internet dari Masjid Putra. Gak menunggu lama, kami pun dapat Grab Car dengan sopir abang-abang yang masih sebaya. Tujuannya adalah Putrajaya Sentral karena kami akan segera kembali ke bandara KLIA 2 dengan menggunakan kereta bandara KLIA Transit.

Sepanjang perjalanan kami ngobrol dengan abang-abang Grab-nya. Perjalanan dari Masjid Putra hingga Putrajaya Sentral hanya menghabiskan RM9. Begitu turun, Novan langsung membayar RM10 dan seperti yang biasa kami lakukan di Indonesia, kami selalu membulatkan pembayaran dan memberikan sisanya sebagai tips. Apalagi cuma RM1 alias Rp3.000. Tapi, si abang Grab-nya langsung mengembalikan uang kembalian. Begitu Novan bilang gak perlu dikembalikan, sopirnya tetap menolak dengan ramah meski kami tetap tidak menerimanya. Fakta penting: sopir Grab di Putrajaya gak menerima tips. Good point!

Sampai di Putrajaya Sentral, kami langsung menuju stasiun KLIA Transit. Kami naik KLIA Transit dari Putrajaya menuju KLIA 2 bertarif RM9.4 dengan waktu tempuh 30 menit. Kami pun sampai di KLIA 2 sekitar jam 19.00. Berhubung tinggal sejam, kami langsung bergegas cap paspor dan menuju gate tempat pesawat kami akan take off. Karena buru-buru kami belum sempat mengisi perut atau beli makanan yang agak berat buat di ruang tunggu atau di pesawat. Begitu pemeriksaan barang, kami masih punya sebotol air mineral yang sayang banget buat dibuang. Meski tau bakal dilarang, tapi iseng-iseng saya selipin di backpack, siapa tau lolos. Eh, taunya tetap ketahuan juga dan disita, haha.

Padahal, bodohnya, saya gak tahu ilmunya. Harusnya, saya bawa botol kosong buat masuk ke ruang tunggu. Karena di ruang tunggu banyak tersedia tap water dan botolnya bisa dipake buat nyimpan air. Turis-turis lain sih pada begitu. Makanya, saya cuma ngetap langsung aja sampai bener-bener kenyang, hehe. Dan, saya mikirnya, gak akan lama lagi saya sampe Jakarta. Eh, ternyata Air Asia yang bakal saya tumpangi delay sejam. Alhasil menunggu lebih lama lagi 😃

Begitu waktunya datang buat boarding, saya pun harus merelakan diri mengakhiri euforia saya menjejak kaki di Malaysia. Harus kembali ke dunia nyata kalau besoknya banyak tugas dan pekerjaan yang menanti. Meski singkat, paling tidak, backpacking 72 jam di KL cukup untuk membuka perjalanan-perjalanan lain yang lebih seru. See you, Truly Asia!

1 komentar:

  1. Assalaamu'alaikum wr.wb, Eza...

    Alhamdulillah, membaca pengalaman di Malaysia yang kebanyakannya di negeri Selangor, pasti banyak kenangan yang tidak dilupakan. 72 jam itu belum cukup untuk mengeluti kehidupan kota batu Putrajaya ini. Masih banyak yang perlu dijelajahi, kan. Semoga akan kembali lagi untuk perjalanan yang lainnya.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak. :)

    BalasHapus