Header Ads

Backpacking Malaysia: Kuala Lumpur City Tour (Part 5)

Setelah menghabiskan waktu di Batu Caves, akhirnya sampe juga hari ketiga di Malaysia dan saya harus balik hari ini! Inilah episode yang selalu menyebalkan di setiap traveling atau backpacking: hari terakhir sebelum balik ke kota sendiri. Hari ini, penerbangan dari KLIA 2 ke Jakarta pukul 20.00. Makanya, saya dan Novan akan manfaatkan hari terakhir ini dengan eksplor Kuala Lumpur dan mampir ke Putrajaya setelahnya.

Masjid Jamek Kuala Lumpur dengan latar belakang pencakar langit KL.
Setelah check out hostel di Bukit Bintang, kami menuju KL Sentral lagi dengan menggunakan monorail. Tujuan pertama adalah menara kembar Petronas lagi! Iya, berhubung semalam ke Petronas baru dapat gambar malam hari ini, sekarang kami mampir lagi buat mengambil foto Petronas di siang hari 😃

Sebelum ke Petronas lagi, kami keliling-keliling dulu toko buku di Nu Mall. Tapi sebelumnya, kami menitipkan dulu backpack ke tempat penyewaan loker di KL Sentral. Terdapat banyak loker untuk disewakan, mulai ukuran kecil, sedang, hingga besar. Salah satu fasilitas yang memudahkan wisatawan. Jadi, kami hanya perlu membawa selempang dan peralatan pokok. Sisanya kami titipkan ke loker. Penjaga lokernya orang India. Cukup RM15, kami dapat loker sedang dengan terlebih dahulu mendaftar dengan cara memindai sidik jari dan retina mata.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Suria KLCC dengan LRT. Setelah dapat beberapa foto Petronas di siang hari, balik lagi ke stasiun LRT dan melanjutkan perjalanan ke Masjid Jamek. Dari Suria KLCC turun di stasiun Masjid Jamek.

City tour di hari terakhir akhirnya menampakkan wajah kota KL yang sebenarnya. Kalau sebelum-sebelumnya terlalu turistik, nah sekarang saya baru bisa menyaksikan wajah kota yang sibuk, padat, dan berdebu. Begitu turun di stasiun Masjid Jamek, saya dan Novan jalan dulu ke Jalan Masjid India, yaitu kawasan pasar yang banyak menjual aneka baju, buku, dan aksesoris lain yang kebanyaka untuk Muslim. Kami juga jajan street food-nya KL yang kebanyakan gorengan dan minuman ringan kayak di Indonesia.

Saya membeli beberapa gorengan yang gak tahu namanya apa, tapi mirip otak-otak dan bakwan tanpa sayuran. Harganya kisaran RM2 dapat tiga biji. Sedangkan esnya cukup RM1.5. Saya pilih es asam asin dan Novan pilih es jagung. Agak aneh sih namanya. Dan, ternyata rasanya lebih aneh lagi. Es asam asin beneran sesuai namanya. Kayak Pocari Sweat dikasih asam jawa. Gorengannya pun gak ada yang enak. Sebagai pecinta gorengan sejati, saya kecewa karena ada gak ada sensasi mecin sedikit pun di antara semua gorengan yang saya beli. Ini kali ya yang bikin orang Malaysia sehat-sehat, makanannya banyak yang terasa hambar 😃

Penampakan es asam asin yang rasanya geje.
Setelah kecewa dengan jajanannya, saya segera masuk Masjid Jamek untuk menetralkan perasaan *lebay* Saat itu masih sekitar pukul 12.30 dan waktu Zuhur masih sekitar sejam lagi.

Masjid Jamek adalah masjid tertua di Kuala Lumpur. Diresmikan pada 1909, masjid bergaya Moor ini didirikan tepat di delta yang mempertemukan Sungai Klang dan Sungai Gombak. Pertemuan kedua sungai inilah yang konon jadi asal muasal kota ini disebut Kuala Lumpur. Sayang gak bisa foto pertemuan dua sungai ini karena sedang dilakukan pembangunan di sekitarnya. Kalau penasaran sih bisa lihat Google Earth.

Sambil menunggu Zuhur, sang Imam masjid mengisinya dengan ceramah dalam bahasa Melayu. Begitu waktu Zuhur masuk, muazin langsung melantunkan azan. Setelah itu, beberapa jamaah tampak melakukan shalat sunnah qabliyah. Tapi, Imam terus melanjutkan ceramahnya. Setelah para jamaah yang shalat sunnah tampak rapi duduk menunggu jamaah shalat wajib, ternyata Imam masih terus melanjutkan ceramahnya. Saya lirik jam sudah lebih dari satu jam. Padahal, masih banyak destinasi yang akan dikunjungi. Alhasil, saya dan Novan jadinya shalat berjamaah sendiri. Sampai kami selesai shalat pun, ceramah masih bertahan. Entah mau shalat jamaah kapan ya mereka 😃

Masjid Jamek Kuala Lumpur.
Bagian dalam Masjid Jamek.

Jam 14.00, kami melanjutkan jelajah ke Dataran Merdeka, sebuah lapangan luas di pusat kota Kuala Lumpur. Dataran ini masih berhubungan dengan Dataran Pahlawan yang saya ceritakan sewaktu di Melaka. Di dataran inilah, kemerdekaan Malaysia diproklamasikan. Tepat 31 Agustus 1957, bendera Union Jack diturunkan dan diganti oleh bendera Federasi Malaysia. Di depan dataran merdeka, berdiri megah Istana Sultan Abdul Samad, gedung bekas pusat pemerintahan kolonial Inggris sewaktu itu dan juga istana kesultanan Selangor.

Di ujung dataran merdeka, terdapat tiang bendera yang diklaim Malaysia sebagai tiang bendera tertinggi di Asia Tenggara. Di sebelahnya lagi terdapat Perpustakaan Kota Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur City Gallery. KL City Gallery tentu spot yang wajib didatangi ke KL. Di sana terdapat banyak informasi penting mengenai KL, pusat aksesoris, dan juga slogan I Love KL yang hits di kalangan wisatawan yang berkunjung ke KL.

Dari KL City Gallery, kami lanjut berjalan ke Central Market atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Seni. Meski namanya pasar, tempatnya sangat nyaman dan bersih. Di dalamnya terdapat banyak pedagang aksesoris, baju, dan berbagai hasil kesenian, khususnya yang khas dari Kuala Lumpur dan Malaysia. Saya membeli dulu oleh-oleh di sini, mulai gantungan kunci, tempelan kulkas, t-shirt, post card, dan beberapa aksesoris lainnya.

Dataran Merdeka, monumen kemerdekaan Malaysia. Di sini tempat diproklamasikannya kemerdekaan Malaysia yang diberikan oleh Kerajaan Inggris.
Tiang bendera di Dataran Merdeka yang diklaim Malaysia sebagai tiang bendera tertinggi di Asia Tenggara.
Perpustakaan Kuala Lumpur.
Spot foto favorit di depan Kuala Lumpur City Gallery.

Central Market a.k.a. Pasar Seni, tempat belanja oleh-oleh para turis.
Pintu masuk Pasar Seni.
Setelah puas keliling pasar seni, kami langsung kembali ke KL Sentral. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus mengakhiri perjalanan di Kuala Lumpur. Setelah tiba di KL Sentral dengan LRT dari stasiun Pasar Seni, kami langsung mengambil barang-barang di penyewaan loker. Setelah itu, kami mengisi perut dulu di sekitar KL Sentral. Pilihannya adalah foodcourt yang ada di lantai bawah. Saya memesan nasi tomatto, berhubung penasaran karena dari kemarin banyak banget yang jual ini. Sedangkan Novan memeasan Laksa Sarawak. Ternyata, laksanya jauh menggiurkan daripada nasi tomatto.

Laksa Sarawak. Di antara semua makanan yang sudah kami coba, ini makanan paling gurih, paling niat, paling bermecin. Kayaknya semua rempah masuk di sini 😃
Nasi Tomatto, salah satu menu yang banyak dijual di mana-mana.
Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Putrajaya. Sebetulnya dari KL Sentral, kami bisa saja naik kereta bandara KLIA Transit untuk ke Putrajaya. Tapi, bukan backpacker budget namanya kalo gak pilih yang lebih ekonomis 😃 Dari KL Sentral, kami naik Komuter ke BTS. Dari BTS, barulah kami naik KLIA Transit menuju Bandaraya Putrajaya, sebuah kota “buatan” tempat pusat pemerintahan negara Malaysia.

Cerita khusus tentang Putrajaya, saya tulis di postingan selanjutnya deh 😊

Tidak ada komentar